Cara memeriksa selaput dara secara manual !!!

CARA MEMERIKSA SELAPUT DARA SECARA MANUAL !!!

Dokter memandang pasangan muda itu dengan prasangka. Gadis itu muncul dengan wajah pucat sementara pemuda itu, kekasihnya, muncul dengan wajah keras sedingin besi. Keputusannya sudah bulat, mustahil membantahnya. Di dalam hati, dokter itu menduga, “Ini pasti gara-gara down payment lagi. Ternyata pemuda-pemuda sekarang jauh lebih murah hati, sebelum menikah, mereka sudah memberi down payment dulu kepada kekasihnya” Sambil mengulum senyum, dokter itu menunjuk dua buah kursi di depannya. Pasangan muda itu pun duduk dengan kaku.
“Ada yang bisa di bantu?” Tanya dokter itu. Mula-mula dia menatap gadis itu, gadis itu menggigit bibirnya, diam, lalu menunduk. Setelah memuaskan rasa kagumnya atas kecantikan gadis itu yang masih nampak nyata walaupun wajahnya penuh duka, dokter itu menatap pemuda itu. Pemuda itu mengepalkan tinjunya dan berkata garang seolah Naga Bonar yang baru menang perang. “Pak Dokter, kami akan menikah bulan depan.” Tiba-tiba pemuda itu berhenti berbicara. Entah mengapa, begitu saja dia kehilangan keberaniannya. Dokter itu tersenyum dan berkata, “Bila demikian, silahkan menikah bulan depan!”

Pemuda itu memandang kekasihnya, mula-mula dia memandang dengan penuh cinta lalu matanya membara penuh rasa cemburu. Dia lalu berbalik menatap dokter itu, yang dibalas dengan tatapan datar. “Pak dokter, sebelum pacaran dengan saya, dia pernah pacaran dengan beberapa lelaki lain. Walaupun mengaku masih perawan, namun saya ragu bahwa dia masih perawan. Saya mau dia diperiksa dok.” Dokter itu menyandarkan punggungnya di kursi kulitnya sambil menarik nafas panjang. “Hmmm …. Memeriksa selaput perawan!” bisiknya dalam hati. Walaupun hal itu mudah dilakukan namun akibatnya selalu mengenaskan. Tangan kirinya memegang lengan atas tangan kanannya, sementara tangan kanannya mengelus-elus dagunya yang tidak berjenggot. Dokter itu nampak merenung. Matanya secara diam-diam menatap gadis itu.

Dia melihat ada air mata mengalir di pipi gadis itu dan begitu saja timbul rasa kasihannya. Dokter itu pun mengambil keputusan untuk menolong gadis itu. Setelah menghela nafas panjang, dia lalu menatap pemuda itu dan berkata, “Maaf, sebaiknya anda periksa di tempat lain saja, karena kami belum memiliki peralatan untuk memeriksa selaput dara, itu sebabnya kami hanya bisa melakukannya dengan cara manual.” Pemuda itu nampak kaget dengan jawaban dokter. Dia berpikir lama sebelum berkata, bertanya, “Apa kekurangan pemeriksaan selaput dara dengan cara manual, pak dokter?” Dokter itu menghela nafas panjang dan menjawab, “Waktu pemeriksaannya lama saya kuatir anda akan bosan menunggunya.” Sebelum pemuda itu berkata, dokter itu menambahkan, “Sesungguhnya pemeriksaan selaput dara secara manual jauh lebih akurat.”

Pemuda itu menatap dokter dan kekasihnya bergantian, akhirnya dia memutuskan, “Lama nggak apa-apa dok, saya akan sabar menunggu hasilnya, yang penting akurat.” Dokter itu tersenyum. “Baiklah bila demikian, silahkan adik menunggu di ruang tunggu sementara saya memeriksanya.”Pemuda itu pun keluar dari ruangan itu, meninggalkan kekasihnya seorang diri. Dokter itu pun melakukan pemeriksaan.

Dua minggu kemudian, pasangan itu kembali datang. Kali ini pemuda itu datang dengan penuh amarah. Tanpa dipersilahkan duduk, dia langsung menggebrak meja. “Dokter bilang dia masih perawan, ternyata dokter bohong! Dokter apa yang sekongkol dengan pasiennya?” Dokter itu menanggapi amarah pemuda itu dengan tenang. Setelah pemuda itu menumpahkan semua amarahnya, dia pun tenang. Dokter itu pun lalu bertanya, “Apa sesungguhnya yang terjadi?” Pemuda itu pun lalu bercerita bahwa semalam pacarnya menginap di rumahnya. Karena terlalu lama becumbu keduanya lupa daratan. Maka terjadilah yang harus terjadi. Ternyata tidak mengeluarkan dara. “Dokter, nggak ada dara sama sekali. Nggak berdarah sama sekali. Bukankah itu berarti dia tidak perawan lagi?” Kata pemuda itu garang, emosinya mulai tersulut lagi.

Setelah membiarkan pemuda itu tenang, dokter itu berkata, “Dua minggu yang lalu, waktu saya periksa pacar anda memang benar-benar perawan. Saya berani mempertaruhkan reputasi saya untuk diaknosa yang saya buat. Mustahil dokter berpengalaman seperti saya melakukan kesalahan konyol demikian.” Pemuda itu menatap dokter itu, dokter itu membalas tatapannya dengan penuh keyakinan.

Beberapa saat berlalu, akhirnya pemuda itu berkata, “Kalau dokter nggak salah diaknosa, lalu apa yang sesungguhnya yang terjadi? Kenapa nggak ada darah? Kenapa dia nggak berdarah?” Dokter itu memandang pemuda itu, setelah berpikir dia lalu berkata, “Saya tidak tahu apa yang terjadi. Namun bila anda kehendaki, saya bisa melakukan pemeriksaan apakah saat ini pacar anda masih perawan atau tidak. Pemuda itu setuju, dia pun lalu keluar meninggalkan kekasihnya.

Pemeriksaan kali ini nampak jauh lebih lama dari sebelumnya. Nampaknya dokter itu melakukan pemeriksaan seteliti mungkin. Itulah yang dipikirkan oleh pemuda itu ketika menunggu di ruang tunggu. Dua jam lebih berlalu, akhirnya dokter itu membuka pintu ruang prakteknya dan mempersilahkan pemuda itu masuk. Pemuda itu masuk. Dia mendapati pacarnya duduk dan nampak lelah sekali. Hal yang sama juga terjadi pada dokter itu. Nampaknya pemeriksaan kali ini dilakukan dengan benar-benar teliti itu sebabnya menguras tenaga baik dokter yang memeriksa maupun gadis cantik yang diperiksa itu. Walaupun kelihatan lelah, namun nampaknya pemeriksaan kali ini berhasil dengan baik, itu sebabnya baik wajah dokter maupun pacarnya memancarkan kepuasan.

“Bagaimana pak dokter?” Tanya pemuda itu penuh rasa ingin tahu. Dokter itu menatap pemuda itu sambil tersenyum. “Dua minggu yang lalu saya meriksanya dua kali. Itu sebabnya saya yakin dengan hasilnya. Kali ini, Setelah memeriksanya tiga kali, saya memutuskan untuk memeriksanya sekali lagi. Itu sebabnya hasilnya pasti tidak akan meleset.” Dokter itu berhenti, dia menatap gadis muda itu sambil tersenyum. Gadis itu membalas tatapannya malu-malu, namun tak berhasil menunjukkan rasa senangnya. Pemuda itu langsung menyambar, “Bagaimana hasilnya pak dokter?” Dokter itu memandang pemuda itu lalu berkata dengan sabar. “Anda benar, hasil pemeriksaan tadi memang membuktikan bahwa pacar anda tidak perawan lagi.”

Pemuda itu nampak lemas menerima jawaban dokter itu. Dia menatap pacarnya dan amarahnya mulai naik. Dokter itu berkata, “Dik, dua minggu yang lalu pacar anda masih perawan. Saya menjamin diaknosa itu mustahil salah. Pemeriksaan tadi membuktikan bahwa pacar anda sudah tidak perawan lagi. Tadi malam kalian lupa daratan seperti cerita anda. Dua minggu lagi kalian akan menikah. Jadi silahkan menarik kesimpulan sendiri lalu ambillah keputusan dengan bijaksana. Untuk pemeriksaan kali ini saya tidak akan pungut biayanya.”

Mobil itu itu meluncur di keramain Jakarta. Pemuda itu mengulurkan tangannya memegang bahu pacarnya dan berkata, “Kita akan menikah dua minggu lagi. Saya percaya kamu memang masih perawan waktu diperiksa pertama kali.” Gadis itu menatapnya dengan mesra. Di antara hiruk-pikuk jalanan Jakarta, gadis itu berkata, “Waktu periksa pertama, dokter bilang saya masih perawan, itu sebabnya berdarah. Waktu diperiksa tadi, tidak berdarah, makanya dokter bilang saya nggak perawan lagi. Kalau abang nggak percaya, saya nggak keberatan kok untuk diperiksa lagi. Siapa tahu dokternya salah?”

Itulah sepenggal kisah sepasang kekasih tentang pemeriksaan selaput dara dengan cara manual yang diceritakan oleh bulan di suatu malam ketika aku ngelamun, menatap langit biru di padang Edelweis Surya Kencana, Gunung Gede. Sebelum terlelap, saya mengingatkan diri, bila bertemu dengan dokter itu jangan lupa bertanya, “Bagaimana cara melakukan pemeriksaan selaput dara secara manual?” Akhirnya saya terlelap sambil ngakak.

Ads Copy2 divorce attorney
divorce attorney